Bubble Burst: Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya

September 28, 2022by Admin dua0
WhatsApp-Image-2022-09-25-at-7.49.31-AM.jpeg

Belakangan ini, bubble burst atau ledakan gelembung menjadi topik yang cukup hangat terutama di kalangan pebisnis karena  membuat beberapa beberapa startup di Indonesia seperti LinkAja, JD.ID, dan Zenius terpaksa melakukan PHK. 

Ladakan gelembung memiliki pengertian sebagai siklus ekonomi yang diawali dengan peningkatan nilai pasar (khususnya harga aset) secara drastis dengan diikuti penurunan nilai yang cepat sehingga menimbulkan inflasi pada suatu perusahaan. 

Penyebab Buble Burst

Ledakan gelembung bisa disebabkan oleh beberapa alasan yaitu:

 

1. Pasar yang Jenuh

 

Pasar jenuh atau saturated market merupakan kondisi ketika permintaan oleh konsumen telah mencapai titik tertinggi sehingga membuat suatu brand kesulitan untuk menjual produk. Pasar yang jenuh ini seringkali diakibatkan karena promo atau diskon yang berlebihan. Ketika perusahaan menghentikan promo, konsumen akan berhenti atau tidak tertarik membeli produk.

 

2. Sulitnya Produk dalam Bersaing

 

Ledakan gelembung bisa terjadi karena sulitnya produk dalam bersaing. Hal ini tentu akan menyebabkan penurunan minat konsumen dan juga pembelian. Kondisi ini bisa diperparah dengan menurunnya kepercayaan investor dan stakeholder terhadap perusahaan.

 

3. Kesulitan Mencari Dana

 

Ledakan gelembung pada startup bisa disebabkan karena sulitnya pendanaan. Beberapa startup mungkin saja sangat bergantung pada pendanaan investor sehingga ketika pendanaan minim, finansial bisa terganggu.

Baca Juga: Mengenal Funding Startup dan Level Pendanaannya

Dampak Bubble Burst

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ledakan gelembung dapat membuat perusahaan startup harus melakukan PHK pada karyawan agar bisa bertahan. Namun selain itu, ada dampak lain yang bisa dirasakan perusahaan saat mengalami bubble burst seperti masalah finansial yang lebih besar serta harus menunda rekrutmen yang mungkin sedang berlangsung.

Fase Gelembung Ekonomi

Terjadinya gelembung ekonomi atau peningkatan pesat dari nilai suatu barang umumnya akan melewati lima fase, yaitu:

 

1. Pergeseran 

 

Ada dua jenis pergeseran yang mungkin bisa mengawali gelembung ekonomi yaitu pergeseran investor dan pergeseran (penurunan) suku bunga. Pergeseran investor terjadi ketika para investor lebih memilih berinvestasi di perusahaan lain karena alasan teknologi atau inovasi yang lebih menjanjikan. 

 

2. Booming

 

Di fase ini, harga aset akan meningkat sehingga mampu menarik perhatian para pebisnis serta para investor untuk berbisnis di bidang yang sama. Hal tersebut pada akhirnya menciptakan banyak pesaing karena pasar yang terlihat menguntungkan.

 

3. Euforia

 

Pada fase ini, harga aset akan semakin meroket. Nilai barang di pasar akan meningkat secara ekstrem. Banyak pebisnis yang tidak hati-hati dengan fase ini dan berpikir bahwa konsumen masih tetap rela membayar harga mahal karena menyukai produk yang ada. 

 

4. Profit-Taking

 

Pada fase profit-taking, orang-orang akan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya. Namun di saat yang bersamaan, fase ini merupakan saat yang paling penting bagi pebisnis untuk berhati-hati dan selalu waspada dengan kondisi finansial karena gelembung ekonomi sudah pada puncaknya dan bisa “meletus” kapan saja.

 

5. Panik

 

Hanya membutuhkan “setuhan kecil” (waktu yang tidak lama) bagi gelembung ekonomi untuk meletus pada fase ini. Jika gelembung sudah meletus, maka tidak bisa kembali lagi. Artinya, harga akan benar-benar anjlok akibat suplai yang lebih banyak dari permintaan, dan hal ini tentu akan membahayakan finansial sebuah startup.

Baca Juga: Perusahaan Startup: Kenali Contoh, Jenis, dan Sumber Pendanaannnya

Itulah penjelasan seputar bubble burst mulai dari pengertian, penyebab, dampak, serta fase gelembung ekonomi.

Admin dua


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Send this to a friend